PELAJARAN DARI SEJARAH MUNCULNYA KHAWARIJ

Oleh / DhH 7 1435 / Nasehat

Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri

 

Sungguh, dengan mengenali sejarah generasi awal Khawarij akan menumbuhkan sikap waspada terhadap mereka. Sebab, mereka akan senantiasa muncul, hingga Dajjal muncul di tengah-tengah mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Cikal bakal mereka yang paling awal adalah seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah. Jenggotnya tebal, tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, dahinya timbul, dan kepalanya gundul. Dia berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang membagi ghanimah (harta rampasan perang) Perang Hunain, “Berbuat adillah, wahai Muhammad!”—atau—“Bertakwalah engkau, wahai Muhammad!”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Siapa lagi yang akan menaati Allah kalau aku bermaksiat kepada-Nya? Allah telah memercayaiku (untuk diutus) terhadap penduduk bumi, namun kalian tidak memercayaiku?”

Lelaki itu kemudian berpaling. Setelah itu, ada seorang sahabat yang hadir—disebutkan bahwa dia adalah Khalid bin al-Walid—meminta izin kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dari tulang sulbi orang itu akan keluar sekelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum Ad diperangi.” (HR. Muslim)

Awal munculnya mereka dalam bentuk kelompok ialah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Terjadi perselisihan antara mereka dan Ali radhiyallahu ‘anhu, ketika Ali menunjuk orang sebagai hakim dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dalam rangka menjaga agar darah kaum muslimin tidak ditumpahkan.

Sepulang dari Syam setelah peristiwa Shiffin, Ali radhiyallahu ‘anhu memasuki Kufah. Saat memasuki Kufah, sekelompok pasukannya memisahkan diri dari Ali radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa jumlah kelompok itu sekitar 16 ribu orang atau 12 ribu orang. Ada juga yang menyebutkan jumlah kurang dari itu.

Mereka memisahkan diri dari Ali lalu memberontak kepada beliau. Mereka mengingkari Ali radhiyallahu ‘anhu dalam beberapa masalah. Ali radhiyallahu ‘anhu lalu mengutus Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu untuk menemui mereka untuk berdialog dalam beberapa masalah tersebut dan membantah syubhat mereka. Urusan yang mereka persoalkan sebenarnya tidak ada hakikatnya. Sebagian mereka rujuk kepada kebenaran, namun sebagian yang lain tetap bersikeras dalam kesesatan mereka.

Selanjutnya, Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri yang keluar menemui mereka yang tersisa. Beliau radhiyallahu ‘anhu terus-menerus berdialog dan mendebat mereka hingga mereka kembali bersama Ali radhiyallahu ‘anhu ke Kufah. Mereka kemudian mulai menentang ucapan beliau dan memperdengarkan cercaan terhadap beliau. Selain itu, ayat-ayat tentang syirik dan kekafiran terhadap Allah mereka tujukan kepada diri Ali radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan, suatu hari Ali radhiyallahu ‘anhu sedang berpidato. Ketika itu, berdirilah salah seorang Khawarij dan berkata, “Wahai Ali, engkau telah berbuat syirik dalam agama Allah dengan (menunjuk) manusia (sebagai hakim). La hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).”

Lantas bersahutanlah suara dari setiap sudut, “La hukma illa lillah, la hukma illa lillah.”

Ali radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ini adalah kalimat yang benar, tetapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan.”

Beliau kemudian berkata, “Kalian memiliki hak atas kami untuk kami tidak menghentikan pemberian fai’ selama tangan kalian masih (berbai’at) bersama kami, kami tidak menghalangi kalian mendatangi masjid-masjid Allah, dan kami tidak akan memulai memerangi kalian sampai kalian sendiri yang memulai memerangi kami.”

Setelah itu, kaum Khawarij berkumpul di tempat tinggal Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Abdullah bin Wahb berpidato di hadapan mereka dengan ucapan yang menggugah mereka. Dia menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia, mendorong mereka untuk urusan akhirat dan surga, dan memberi semangat mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Setelah, itu naiklah Hurqus bin Zuhair berpidato, dilanjutkan oleh Zaid bin Hishn, yang juga menyemangati mereka untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Dia membaca beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 “Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shad: 26)

 “Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Demikian pula ayat yang selanjutnya, yang menyebutkan “mereka itu adalah orang-orang yang zalim” dan “mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.

Setelah itu, dia berkata, “Aku mempersaksikan bahwa orang-orang yang kita dakwahi, orang-orang yang sama kiblatnya dengan kita, bahwa mereka telah mengikuti hawa nafsu, mencampakkan hukum al-Qur’an, zalim dalam hal ucapan dan amalan, serta bahwa berjihad melawan mereka adalah sebuah keharusan bagi kaum mukminin.”

Menangislah seseorang di antara mereka yang bernama Abdullah bin Sakhbarah. Dia pun memprovokasi mereka untuk melakukan pemberontakan. Dia berkata, “Tikamlah wajah dan kening mereka dengan pedang, sehingga ditaatilah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Manusia jenis ini adalah keturunan Adam yang paling aneh. Mahasuci Dzat yang telah menciptakan makhluk-Nya beraneka ragam sesuai dengan kehendak-Nya, dan telah terdahulu dalam takdir Allah Yang Mahaagung.

Betapa bagusnya ucapan sebagian salaf, bahwa mereka (Khawarij) lah yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)

Ringkasnya, mereka yang bodoh, sesat, celaka dalam hal ucapan dan perbuatan ini, bersepakat untuk memberontak di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka bersepakat pergi menuju Madain untuk merebutnya kemudian berlindung di dalamnya. Mereka pun mengirim utusan kepada saudara-saudara dan teman-teman mereka yang memiliki pemikiran serupa di Basrah dan kota lainnya. Orang-orang tersebut memenuhi ajakan tersebut dan bergabung dengan mereka.

Zaid bin Hishn berkata, “Madain tidak mampu kalian kuasai. Di sana ada pasukan yang tidak mampu kalian hadapi, yang akan menghalangi kalian memasukinya. Buatlah kesepakatan dengan teman-teman kalian untuk pergi ke arah jembatan Sungai Jaukha. Janganlah kalian keluar dari Kufah secara berkelompok, tetapi seorang demi seorang agar tidak ada yang menyadari kalian.”

Mereka menulis surat terbuka kepada penduduk Basrah dan kota lainnya yang memiliki pemikiran dan tindakan yang sama dengan mereka. Mereka mengirimkan pesan tersebut agar bergabung di sisi sungai, agar mereka menjadi satu kekuatan menghadapi manusia.

Setelah itu, mereka keluar secara sembunyi-sembunyi, seorang demi seorang, agar tidak diketahui. Jika ada yang tahu, tentu mereka akan dihalangi sehingga tidak bisa memisahkan diri dari ayah, ibu, paman, dan seluruh kerabat sehingga mereka memutus tali silaturahim.

Dengan kebodohan, pendeknya akal, dan sedikitnya ilmu, mereka berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini membuat Allah subhanahu wa ta’ala—Rabb langit dan bumi—ridha. Mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka tersebut termasuk salah satu dosa besar yang membinasakan, problem berat, dan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka merupakan hasil hiasan Iblis—yang terlaknat, diusir dari langit, dan telah memancangkan tonggak permusuhan kepada bapak kita, Adam dan keturunannya selama ruh mereka masih ada dalam jasad. Hanya Allah sajalah Dzat yang kita minta untuk melindungi kita dengan daya dan upaya dari-Nya. Sesungguhnya, Dialah Dzat yang mengabulkan doa-doa.

Sekelompok orang berhasil menyusul sebagian anak dan saudara mereka lantas memulangkannya, memberi pelajaran, dan menyatakan buruknya perbuatan orang-orang tersebut. Di antara mereka ada yang kemudian istiqamah di atas kebenaran, namun ada pula yang melarikan diri. Yang melarikan diri kemudian bergabung dengan Khawarij. Dia pun ditimpa kerugian hingga hari kiamat.

Kaum Khawarij yang tersisa ini akhirnya pergi ke tempat yang direncanakan. Penduduk Basrah dan kota lainnya yang mereka kirimi pesan dahulu memenuhi ajakan mereka. Mereka semua berkumpul di Nahrawan. Mereka memiliki kekuatan dan menjadi pasukan tersendiri. Mereka berani dan berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh, amat buruklah sangkaan dan kesalahan mereka.

Ketika Ali radhiyallahu ‘anhu sedang menyiapkan pasukan menuju Syam dan berpidato memberi semangat pasukannya, sampai kepada beliau berita bahwa Khawarij telah membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah yang tidak boleh ditumpahkan, merampok di jalan, dan menganggap halal para wanita.

Di antara yang mereka bunuh ialah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  Abdullah bin Khabbab radhiyallahu ‘anhu. Mereka menawan Abdullah dan istrinya yang sedang hamil. Mereka bertanya, “Siapa engkau?”

Abdullah menjawab, “Aku Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian telah membuatku takut.”

Mereka berkata, “Engkau tidak apa-apa. Sampaikanlah hadits yang pernah engkau dengar dari ayahmu.”

Abdullah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خُيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari kecil.”

Mereka lalu mengikat tangan Abdullah. Ketika sedang berjalan bersama beliau, mereka pun mendapati seekor babi milik kafir dzimmi. Sebagian mereka membunuhnya dan merobek kulitnya. Sebagian yang lain berkata, “Mengapa kalian lakukan ini, padahal babi itu milik seorang kafir dzimmi?” Yang membunuh babi tersebut kemudian pergi menuju kafir dzimmi pemilik babi, dan meminta kehalalan perbuatannya dan membuatnya ridha.

Ketika Abdullah masih bersama mereka, ada buah kurma yang jatuh dari pohon. Salah seorang mereka memungutnya lantas memasukkannya ke dalam mulut. Ada yang berkata kepadanya, “(Engkau mengambil dan memakannya) tanpa izin dan tanpa harga?”

Dia pun segera mengeluarkan kurma tadi dari mulutnya. Namun, bersamaan dengan sikap wara’ ini, mereka membunuh Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah sikap wara’ dusta ini.

Setelah itu, mereka mendatangi istri Abdullah. Istri Abdullah berkata, “Aku sedang hamil. Tidakkah kalian takut kepada Allah?”

Mereka tetap membunuhnya, bahkan kemudian merobek perutnya untuk mengeluarkan janinnya.

Ketika sampai kepada kaum muslimin bahwa begitulah perbuatan mereka, kaum muslimin khawatir apabila pergi ke Syam dan sibuk berperang dengan penduduknya, sementara kaum Khawarij tertinggal di sekitar rumah dan negeri mereka dengan perbuatan tersebut.

Ali radhiyallahu ‘anhu pun mengirim al-Harits bin Murrah al-‘Abdi sebagai utusannya kepada Khawarij. Namun, mereka membunuhnya tanpa peringatan. Ketika hal ini terdengar oleh Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau bertekad kuat untuk pergi menghadapi Khawarij terlebih dahulu sebelum pergi ke Syam. Beliau dan pasukannya berangkat dan berkumpul di sana.

Ali radhiyallahu ‘anhu kembali mengirim utusan untuk menyampaikan, “Serahkan para pembunuh saudara kami agar kami balas membunuhnya (dengan qishash). Setelah itu, kami akan tinggalkan kalian dan pergi ke negeri Arab. Semoga setelah itu Allah mengarahkan hati kalian kepada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sekarang kalian berada di atasnya.”

Mereka menjawab, “Kami semua yang membunuh saudara-saudaramu. Kami anggap halal darah kalian dan darah mereka (yang telah kami bunuh).”

Qais bin Sa’d kemudian menemui mereka. Ia menasihati mereka tentang urusan besar dan kesalahan berat yang telah mereka lakukan. Namun, nasihat tersebut tidak bermanfaat.

Demikian pula Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau memarahi dan mencela mereka. Namun, tidak bermanfaat juga.

Akhirnya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sendiri yang mendatangi mereka. Beliau radhiyallahu ‘anhu menasihati dan menakut-nakuti mereka. Beliau radhiyallahu ‘anhu peringatkan dan mengancam mereka. Di antara ucapan beliau kepada mereka, “Sungguh, hawa nafsu kalian telah membujuk kalian. Kalian telah membunuh kaum muslimin. Demi Allah, kalau kalian membunuh seekor ayam milik mereka, sungguh hal itu sangat besar dosanya di sisi Allah. Lantas bagaimana halnya dengan darah kaum muslimin?”

Mereka tidak menjawab kecuali saling menyeru di antara mereka, “Jangan kalian berdialog dengannya. Jangan kalian berbicara dengannya. Bersiaplah untuk bertemu dengan Rabb subhanahu wa ta’ala. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

Inilah seruan Khawarij, baik di masa silam maupun sekarang.

Mereka pun maju dan membentuk barisan untuk berperang. Mereka bersiap sedia untuk bertempur. Mereka berdiri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau.

Kaum Khawarij beramai-ramai menuju Ali radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu telah menyiapkan pasukan berkuda dan pemanah di depan beliau, barisan pejalan kaki di belakang pasukan berkuda. Beliau berkata kepada pasukannya, “Tahanlah diri kalian, sampai mereka yang lebih dahulu menyerang.”

Kaum Khawarij datang seraya mengatakan, “La hukma illa lillah. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.” Mereka pun menyerang pasukan berkuda yang disiapkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu. Sebagian pasukan berkuda tersudut ke kanan, sebagian lagi ke arah kiri. Mereka pun dihadapi oleh pasukan pemanah dengan anak panah yang diarahkan ke wajah mereka. Setelah itu, pasukan berkuda menyerang mereka dari arah kanan dan kiri. Kemudian pasukan pejalan kaki menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Pasukan Ali radhiyallahu ‘anhu berhasil membunuh kaum Khawarij yang lantas bergelimpangan menjadi mayat di bawah kaki-kaki kuda. Terbunuhlah pimpinan mereka Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, Hurqus bin Zuhair, Syuraih bin Aufa, dan Abdullah bin Sakhbarah. Semoga Allah menjelekkan mereka.

Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku menusuk seorang Khawarij dengan tombak dan aku tembuskan hingga ke punggungnya. Aku katakan kepadanya, ‘Bergembiralah engkau, wahai musuh Allah, dengan neraka.’ Ternyata si Khawarij ini menjawab, “Engkau akan tahu nanti, siapa yang lebih pantas masuk ke dalamnya’.” Bayangkan, dia katakan hal itu kepada seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiyallahu ‘anhu pun mulai berjalan di antara mayat mereka dan berkata, “Kejelekan bagi kalian. Sungguh, yang menipu kalian telah memudaratkan kalian.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang telah menipu mereka?”

Ali menjawab, “Setan, dan jiwa yang selalu memerintah kepada kejelekan. Jiwa itu menipu mereka dengan angan-angan dan menghias-hiasi kemaksiatan untuk mereka. Jiwa itu memberitahu bahwa mereka akan membantunya.”

Ali radhiyallahu ‘anhu kemudian memerintahkan agar kaum Khawarij yang terluka dikembalikan kepada kabilah mereka masing-masing untuk diobati. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Ali radhiyallahu ‘anhu membagi-bagi senjata dan barang yang tersisa dari mereka.

Ali radhiyallahu ‘anhu kemudian keluar untuk mencari seorang lelaki yang dijadikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda kaum Khawarij. Kedua lengan atau salah satunya seperti payudara wanita. Beliau radhiyallahu ‘anhu menemukannya di sebuah lubang di tepi sungai, bersama dengan 40 atau 50 mayat lainnya. Ketika menemukannya, Ali radhiyallahu ‘anhu pun sujud kepada Allah dengan sujud yang lama, sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan kepada kita ciri-ciri Khawarij dan pahala yang besar bagi yang membunuh mereka di bawah komando pemerintah, atau terbunuh oleh mereka. Ali radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh (tidak punya hikmah). Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Demikian pula hadits-hadits lainnya.

Dari peristiwa ini kita ketahui bahwa:

1. Perjuangan Khawarij adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan dunia.

2. Mereka menujukan ayat-ayat tentang kekafiran dan kesyirikan kepada pemerintah.

3. Mereka mengafirkan hakim sekaligus orang yang berhukum kepadanya.

4. Mereka tidak akan ridha terhadap seorang hakim, seadil apa pun dia, apabila bukan dari kelompok mereka dan sejalan dengan pemahaman mereka.

Mereka tidak ridha dengan pembagian dan hukum yang ditentukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga tidak ridha terhadap Utsman radhiyallahu ‘anhu sehingga mereka membunuh beliau. Mereka juga tidak ridha dengan Ali radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat terbaik yang bersama beliau. Bagaimana mungkin mereka akan ridha terhadap pemerintah-pemerintah kita sekarang ini?

5. Mereka menipu manusia dengan penampilan religius, slogan amar ma’ruf nahi mungkar, dan upaya perbaikan.

Akan tetapi, sungguh mereka adalah orang yang paling jauh dari hakikat agama dan sunnah.

6. Mereka tidak segan menumpahkan darah kaum muslimin.

Mereka membunuh orang yang tidak bersalah, wanita, sampaipun bayi yang masih dalam kandungan. Hal ini sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Khabbab radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan pula dalam hadits, “Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala.”

Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang. Apabila kita melihat kenyataan kita sekarang, engkau dapati kaum Khawarij terus-menerus ada.

Bahkan, kaum Khawarij sekarang lebih jelek daripada generasi yang terdahulu. Kaum Khawarij terdahulu menampakkan shalat, ibadah, dan membaca al-Qur’an, secara lahiriah. Adapun Khawarij sekarang tidak memiliki agama. Agama mereka adalah penipuan dan khianat. Bacaan mereka pun bukan al-Qur’an, melainkan nasyid-nasyid provokatif.

Ketika kaum Khawarij terdahulu meninggalkan ulama dari kalangan para sahabat, bahkan mengafirkannya, mereka pun sesat dan menyimpang. Ini merupakan sebab terbesar jatuhnya seseorang dalam kesesatan. Demikian pula Khawarij masa kini, ketika mereka mencela dan mengafirkan ulama kita, mengatakan bahwa ulama kita sebagai budak penguasa dan sebutan jelek lainnya, mereka pun menyimpang dan sesat.

Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, engkau akan berjalan di atas ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Semoga Allah memberikan keamanan di negeri kita dan menjadikannya—serta negeri-negeri kaum muslimin yang lain—sebagai negeri yang baik dan damai.

(Dipetik dari khutbah Jum’at yang beliau sampaidi Masjid as-Sa’idi, Jahra, Kuwait, 25 Syawwal1435 H/ 22 Agustus 2014 M)

(dikutip dari Majalah Asy-Syariah edisi 103, hal. 79-85)