“Bid’ahnya Perayaan Maulid Nabi”

Oleh / Rb1 12 1436 / Rudud

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 1 — )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauza hafizhahullah :

Pernyataan mereka bahwa di dalam perayaan Maulid Nabi tersebut terkandung nilai pengagungan terhadap Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jawaban terhadap hal ini (syubhat ini, pen) kita katakan: Sikap pengagungan terhadap Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah dengan menaati beliau, menjalankan perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan mencintai beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Pengagungan terhadap beliau bukanlah dengan amalan-amalan bid’ah, khurafat, dan kemaksiatan. Dan perayaan maulid (hari kelahiran, pen) masuk ke dalam bagian yang tercela ini, karena termasuk kemaksiatan. Manusia yang paling kuat sikap pengagungannya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah para sahabat –radhiyallahu ‘anhum.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy: “Wahai sekalian kaum! Demi Allah, aku pernah berjumpa dengan kisra, kaisar, dan juga raja-raja yang lainnya, akan tetapi aku tidak pernah melihat seorang raja diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana Muhammad –shallallahu ‘alihi wa sallam– diagungkan oleh para sahabatnya. Demi Allah, mereka tidak berani mengangkat pandangan mereka ke arahnya sebagai bentuk pengagungan terhadap dirinya.”

Bersamaan dengan kuatnya sikap pengagungan para sahabat yang seperti ini, mereka tidak pernah menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari ‘id dan perayaan. Kalau seandainya hal itu disyariatkan, tentu mereka tidak akan meninggalkannya.

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 2 — )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauza hafizhahullah :

Berdalih bahwasanya perayaan Maulid Nabi ini diamalkan oleh kebanyakan manusia di berbagai negeri. Jawaban dari syubhat ini, kita katakan: Hujjah (yang bisa diterima, pen) adalah keterangan yang telah pasti datangnya dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Keterangan yang telah pasti dari Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam – adalah LARANGAN terhadap amalan-amalan bid’ah secara umum, dan (amalan Maulid ini) termasuk salah satunya. Amalan manusia, jika menyelisihi dalil, maka bukanlah hujjah, walaupun banyak yang mengamalkannya. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)

Senantiasa ada –segala puji hanya bagi Allah– pada setiap masa orang-orang yang mengingkari amalan bid’ah ini dan menjelaskan kebatilannya. Maka tidak ada lagi hujjah yang tersisa bagi mereka-mereka yang masih terus melakukan bid’ah ini setelah jelas kebenaran bagi mereka.

Di antara para ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim”, al-Imam asy-Syathiby di kitab “al-I’thisham”, Ibnu al-Hajj di “al-Madkhal”, asy-Syaikh Tajuddin ‘Ali bin ‘Umar al-Lakhmy menulis pengingkaran beliau pada satu kitab tersendiri, asy-Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsuwany al-Hindy di kitab beliau “Shiyanat al-Insan”, Sayyid Muhammad Rasyid Ridho (salah satu tokoh mu’tazilah di zaman ini, pen) menulis sebuah risalah tersendiri, asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh menulis sebuah risalah tersendiri pula, Samahatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, dan yang selain mereka dari para ulama yang tak henti-hentinya menulis pengingkaran terhadap bid’ah ini setiap tahunnya di berbagai surat kabar dan majalah pada waktu dilakukannya perayaan bid’ah ini.

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 3 — )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah :

Mereka berkata: Sesungguhnya dengan mengadakan perayaan Maulid Nabi itu, kita menghidupkan upaya mengingat/menyebut nama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jawaban dari syubhat ini, kita katakan: Menghidupkan upaya untuk mengingat/menyebut (nama ) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– haruslah sesuai dengan apa yang Allah syari’atkan, seperti menyebut nama (mengingat nama beliau) dalam adzan, iqomah, khutbah-khutbah, dalam shalat-shalat, ketika tasyahhud, ketika bershalawat atas beliau, membaca sunnah (hadits-hadits) beliau, dan dengan mengikuti ajaran yang beliau diutus dengannya. Amalan-amalan tersebut terus-menerus terulang siang dan malam, bukan hanya sekali dalam setahun.

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 4 — )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauza hafizhahullah :

Mungkin mereka mengatakan: Perayaan Maulid Nabi ini, pertama kali yang mengadakannya adalah seorang raja yang adil dan berilmu dalam rangka untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah! Jawaban dari syubhat ini, kita katakan: Amalan bid’ah tidak akan diterima dari siapapun yang mengamalkannya. Niat yang baik tidak bisa menjadi dalih untuk membolehkan amalan yang jelek. Kondisi orang yang mengamalkannya itu berilmu dan adil bukanlah jaminan bahwa dia terjaga dari kesalahan.

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 5 — )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah :

Mereka mengatakan, Sesungguhnya Perayaan Maulid Nabi itu termasuk jenis ‘bid’ah hasanah’. Karena dengan perayaan tersebut, kita bisa mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat berupa diutusnya Nabi yang mulia ini! Syubhat ini dijawab : TIDAK ADA KEBAIKAN sedikitpun dalam amalan-amalan bid’ah. Nabi –shallallahu ‘alihi wa sallam– telah bersabda: Barangsiapa membuat-buat amalan baru di dalam agama ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” Kita katakan juga: Mengapa perayaan yang terkandung padanya ungkapan rasa syukur ini -menurut persangkaan kalian- baru diadakan di akhir-akhir abad ke-6 hijriyah?! Dan tidak pernah diadakan oleh generasi utama umat Islam dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in. Padahal mereka itu lebih kuat kecintaannya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan lebih semangat di dalam mengamalkan kebaikan dan merealisasikan rasa syukur. Apakah mungkin orang-orang yang membuat-buat bid’ah perayaan Maulid itu lebih terbimbing dan lebih bisa bersyukur kepada Allah daripada mereka (sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in, pen)?! Hal ini tidaklah mungkin, dan sekali-kali tidak!

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

( — 6– )

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah : Mereka mengatakan: Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ini adalah salah satu cara untuk mengungkapkan/menampakkan rasa cinta kepada beliau. Dan menampakkan kecintaan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah sesuatu yang disyariatkan! Jawabannya, kita katakan: Tidaklah diragukan bahwasanya kecintaan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– wajib atas setiap muslim, dengan kecintaan yang lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya. Namun, hal itu bukan berarti kita boleh membuat-buat amalan bid’ah yang tidak pernah beliau syariatkan untuk kita. Bahkan kecintaan kepada beliau memberikan konsekuensi bagi kita untuk MENAATI dan MENGIKUTI beliau. Karena sesungguhnya hal itulah di antara bukti terbesar kecintaan kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam sebuah sya’ir: Kalau seandainya kecintaanmu jujur, niscaya engkau akan mengikutinya… Sesungguhnya orang yang mencintai itu kepada orang yang dicintai patuh… Maka kecintaan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkonsekuensi untuk menghidupkan sunnah beliau, menggigit sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham, dan menjauhi segala sesuatu yang menyelisihinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Tidak diragukan lagi bahwasanya segala sesuatu yang menyelisihi sunnah beliau, maka itu adalah BID’AH yang TERCELA dan KEMAKSIATAN yang sangat tampak, dan diantaranya adalah perayaan Maulid Nabi ini dan yang selainnya dari perkara-perkara bid’ah. Niat yang baik bukanlah dalih untuk membolehkan al-ibtida’ (membuat-buat bid’ah, pen) di dalam agama, karena agama Islam dibangun di atas dua prinsip utama: > Ikhlas, dan > mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi, pen). Allah Ta’ala berfirman:

(بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون) البقرة:١١٢

Bahkan barangsiapa yang menghadapkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112) Islamu al-wajh (Menghadapkan wajah, pen) adalah ikhlas kepada Allah, dan al-ihsan adalah al- mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah dan mencocoki as-sunnah.

WhatsApp Manhajul Anbiya