TAUHID MENURUT SALAF

Oleh / Muh 29 1438 / Aqidah

Al-Imam Abu ‘Abdillah ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah (wafat tahun 387 H) dalam karya besarnya yang berjudul Al-Ibanah al-Kubra, mengatakan:

“Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:

1. Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan (mengingkari) adanya pencipta.

2. Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya (Uluhiyyah-Nya), yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam peribadahan.

3. Ketiga: Meyakini bahwa Dia (Allah) bersifat dengan sifat-sifat (kesempurnaan) yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.”

al-Ibanah ‘an Syari’ati al-Firqah an-Najiyah 2/172-173

قال الإمام أبو عبد الله عبيد الله بن محمد بن بطه العكبري المتوفى سنة ٣٨٧ هـ في كتابه « الإبانة الكبرى »

وذلك أنّ أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء :


 أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مبايناً لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعاً


 والثاني : أن يعتقد وحدانيته ليكون مبايناً بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره


 والثالث : أن يعتقده موصوفاً بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفاً بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه “

« الإبانة عن شريعة الفرقة الناجية » ٢ / ١٧٢ – ١٧٣

Tentu saja al-Imam Ibnu Baththah ini hidup sebelum masa Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah (w. 1206 H), juga sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H).

Jadi, pembagian Tauhid ada tiga bukan buatan “Wahhabi”. Bahkan itu pembagian di kalangan para ulama Salaf.